Monthly Archives: March 2014

Cara Menghindari Penipuan Investasi

Tidak hanya dalam bisnis MLM yang memiliki potensi money game, tapi dalam tawaran investasi pun hal ini mungkin saja terjadi. Selama tidak ada sektor riil tempat menanamkan untuk mengembangkan nilai investasi maka kecenderungannya selalu ada, baik disengaja (skema investasinya) maupun tidak.

Terkadang meskipun sektor riilnya ‘jelas’ tapi tetap saja sering terjadi. Berdasarkan yang berhasil ‘terdeteksi’ 🙂 oleh penulis maka ada beberapa tinjauan yang dapat dilakukan oleh investor untuk menghindari dini penipuan investasi ini, sbb :

1. Keinginan investor yang ‘berlebihan’
Biasanya karena keinginan untuk mudah dan cepat mendapatkan return yang besar maka para investor sering tidak ‘memeriksa’ kondisi real keuangan diri sendiri. Ada yang sebenarnya sedang mengalami ‘luka yang dalam’ (baca: utang kredit lumayan banyak dan bunga besar) tapi memaksakan diri berinvestasi hanya karena iming-iming keuntungan yang besar dan cepat.

Padahal iming-iming tersebut masih bersifat potensial sementara bunga dari utang yang harus dibayarkan sifatnya mutlak.. Keuntungan yang belum pasti ini akan digunakan melunasi atau membayar kredit yang risikonya sudah jelas. Jadi harus tetap realistis.

Kecerobohan lain adalah mempercayakan keputusan investasi pada orang lain yang kurang kompeten. Misalnya berinvestasi hanya karena diajak seseorang tanpa dia sendiri mengenali bidang investasi tersebut. Sebenarnya memang biasanya lebih baik jika ada rekomendasi dari seseorang apalagi yang memang ‘kompeten’ tapi keputusan sebaiknya tetaplah hasil pertimbangan dari investor sendiri.

2. Profil Perusahaan Investasi
Kalau kita ‘meminjam’ ilmu dan prinsip prudensial dari institusi perbankan, keuangan non perbankan, dll, maka mereka hanya akan mengucurkan dana bagi ‘yang memenuhi syarat’. Mereka akan melakukan analisa fundamental dan teknikal ( mirip pasar modal ).

Syaratnya biasanya usaha tersebut minimal telah berjalan dua tahun, dengan komposisi keuangan internal tidak memiliki banyak utang. Jadi dana kreditnya lebih kepada ekspansi atau produksi untuk meningkatkan laba. Dan memiliki aset jaminan dan atau modal penyertaan. Perusahaan ini dinilai lumayan sehat.

Untuk perusahaan yang mencari mitra investor, berarti dalam hal ini perusahaan tersebut memiliki ide yang akan ‘didanai’ bersama oleh bank dana (baca: investor). Maka untuk meminimalisir money gamenya agar tidak berakhir bodong, sebagai investor yang penting untuk diperhatikan adalah :

  • Usia Perusahaan
  • Apakah merupakan perusahaan start-up atau memiliki pengalaman sekian tahun. Penting agar jumlah gelontoran dana lebih sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya.

  • Fungsi dan peran serta perusahaan tersebut
  • Caritau apakah perusahaan tersebut hanya berfungsi sebagai ‘perantara’ yang tugasnya mencari investor saja atau perusahaan tersebut memiliki peran tertentu selain hanya sekedar perantara.

    Contoh kasus: ada sebuah perusahaan yang mengatakan bergerak di bidang perkebunan, menawarkan investasi bagi hasil. Dana (katanya) akan digunakan untuk menyewa lahan, membeli bibit, dll.

    Sebagai investor langkah awal yang harus dilakukan adalah mengetahui secara jelas dimana lahannya, apakah telah ada pembicaraan dengan pemilik lahan, siapa pemilik lahannya, dll agar tidak terjadi ‘perusahaan itu hanya sekedar menunjukkan lokasi lahan tapi lahan itu milik orang lain alias ngaku-ngaku telah menjalin kerjasama. Jadi lahan ada tapi tidak ada hubungannya sama sekali dengan perusahaan investasi tersebut.

    Sedangkan jika perusahaan tersebut bukan sekedar ‘perantara’ misalnya merupakan induk dari perusahaan perkebunan itu maka coba liat apakah usianya minimal sudah dua tahun dan bagaimana legalitasnya termasuk AD/ART nya.
    Dari hal ini akan ‘terbaca’ berapa modal penyertaannya (persentase keterlibatan langsung dalam hal dana) dan ‘rasa kepemilikan’ terhadap perusahaan tersebut.

    Rasa kepemilikan sangat penting terutama jika tiba masa-masa sulit sebagaimana investasi pada umumnya yang memang akan mengalami episode sulit. Pemimpin perusahaannya tentu tidak akan kabur begitu saja membawa dana investor karena memiliki ikatan batin dengan perusahaannya.

  • Bidang Usaha
  • Kenali bidang usahanya, agar kita dapat menjadi investor aktif (keterlibatan tidak harus 100%) bagi perkembangan perusahaan

  • Jangka Waktu investasi
  • Maksud dari memperhatikan jangka waktu adalah bahwa sebagai investor kita juga harus mengevaluasi berkala investasi kita jangan diserahkan sepenuhnya pada perusahaan.

    Ibaratnya kita melakukan perjalanan tentu tidak tidur terus sampai ke tujuan bukan ? Beda khan hasilnya pada ‘orang yang tidur’ dan ‘yang melek’ jika tiba-tiba driver melakukan pengereman mendadak?!

    Jadi meskipun investasi kita jangka panjang misalnya selama 5 tahun sebaiknya tidak ‘menyimpan di laci kemudian kunci’ selama 5 tahun. Tetaplah mengikuti progresnya sehingga investor dapat lebih mengambil keputusan yang cepat dan tepat jika terjadi sesuatu (eksternal maupun internal) pada perusahaan (sebelum 5 tahun).

    Advertisements

    Cara Memilih MLM Yang Tepat

    Setelah membahas apakah MLM itu baik atau buruk pada artikel tentang Skema Bonus Yang Fair pada MLM, maka artikel lanjutannya adalah bagaimana cara memilih MLM Yang Tepat Bagi Kita.

    Berdasarkan artikel sebelumnya, maka kita simpulkan bahwa MLM merupakan cara pemasaran yang pada dasarnya baik. Untuk meminimalisir kadar money game karena unsur ‘member get member’ nya, maka penekanan utama tetap pada keunggulan produk dibanding potensi bonus yang diperoleh serta dukungan sistem yang fair bagi upline maupun downlinenya. Porsi keuntungan dan bonus dari penjualan riil harus lebih besar dibanding porsi bonus jaringan.

    Selanjutnya menentukan MLM mana yang akan kita pilih dari sekian banyak perusahaan MLM dengan berbagai produknya.

    Langsung aja ya :

    1. Legalitas
    Seperti halnya bisnis dan investasi lain yang memerlukan ijin otoritas terkait, maka perusahaan MLM juga harus memiliki SIUP-L dan terdaftar sebagai anggota APLI.

    2. Produk
    Karena MLM adalah ‘penjualan’, maka yang paling penting adalah melihat produknya, apapun skema bonus yang digunakannya. Prioritas utama adalah pada produk yang ‘cocok’ bagi kamu yang nantinya akan menjadi member. Karena kategori member ada dua yaitu bisa sebagai distributor maupun end-user nya. Jadi biar ‘passion’nya dapat kamu harus menempatkan diri dulu sebagai end-user.

    Andaikata sebagai end-user, produk itu tidak ‘cocok’ bagi kamu, maka coba liat apakah produk tersebut dibutuhkan oleh orang lain (baca: orang banyak) dengan alasan yang berbeda. Jika memenuhi, maka kamu boleh mencoba menjadi distributornya.

    Khusus untuk yang Muslim Muslimah, kalau berupa produk makanan, minuman, dsj, selain dari BPOM, jangan lupa cek sertifikasi halal nya ya..

    3. Sistem
    Apakah sistemnya relatif mudah dan adil bagi kamu dan perusahaannya. Sistemnya meliputi biaya keanggotaan, masa berlaku, bonus-bonus, syarat-syarat umum dan khusus, (singkatnya, hak dan kewajiban)

    4. Harga
    Poin yang satu ini memang penting ‘diperhatikan’ dalam segala hal ya :). Sebaiknya harga bersaing dengan produk sejenis di pasar bebas (misal: dlm skala 1-10, harga sekitar 8-12).

    5. Nilai Tambah
    Adakah nilai tambah selain dari produk utama dan bonus-bonus terkait produk yang diberikannya? Nilai tambah bisa berbagai macam, termasuk hal di luar produk. Untuk jadi ‘pembeda’ bagi yang bukan member.

    Contoh: jika produk sejenis (misal: aplikasi –‘tertentu’) bisa diperoleh dengan murah, mudah, apalagi gratis di pasar bebas, maka perusahaan MLM bisa memberikan nilai tambah dengan memberikan dukungan keamanan dan maintenance berkelanjutan dan (tentunya) gratis.

    6. Testimoni
    Hal ini tetap harus dipertimbangkan ya.. tapi keputusan tetap pada kamu yang akan menjalaninya.

    Ada yang mau menambahkan? Silakan

    MLM Itu Baik Ataukah Buruk ?

    Mendengar kata MLM apa yang langsung melintas di pikiran kita? Apakah sebagian besar dari kita serasa ingin ‘lenyap’ dan ‘melenyapkan’??

    Dari kata ‘marketing’ yang membentuk singkatan MLM ini berarti secara sederhana menunjukkan pemasaran secara jaringan. Pemasaran sistem berjenjang ini dengan bonus-bonus yang diberikan lebih memberikan nuansa ‘saling menghargai’. Berjamaah. Sistem ini dapat mempercepat dan memperluas jangkauan bisnis. Tapi seperti hal-hal pada umumnya, kelebihan ini juga bisa menjadi kekurangannya.
    Kita coba bahas secara sederhana dari sudut pandang kekurangannya.

    Mengapa pada umumnya orang cenderung tidak bersimpati pada bisnis yang menggunakan marketing skema MLM ini? Berdasarkan yang penulis alami dan ‘renungkan’ maka ada beberapa hal yang menjadi kekurangan sistem ini yang pada akhirnya melahirkan ketidakadilan bagi para anggotanya, yaitu:
    Marketer terkesan berlebihan.
    Sebagian besar tenaga pemasarnya ‘agresif’ sekali dalam memasarkan produknya, presentasi prospek terkadang tidak mengenal waktu, terutama saat awal-awal booming sistem ini.

    Produknya Mahal
    Dengan alasan eksklusivitasnya (tidak dijual bebas), maka harga produk cenderung mahal, dan biasanya di pasaran tersedia produk sejenis yang relatif lebih murah dan juga berkhasiat. Sementara para anggota dikejar ‘deadline’ yang dikenal dengan istilah tutup point dalam memasarkan produk-produknya.

    Sistem keanggotaan umumnya periodik dan (harus) dimutakhirkan
    Meskipun ada yang memberikan masa keanggotaan seumur hidup, tapi sebagian besarnya memiliki batas masa berlaku keanggotaan.

    Terkesan Harus Kerja Keras Untuk Bonus
    Banyak yang berpendapat bahwa sistem MLM ini cenderung mengarah ke money game. Anggota-anggota terakhir lah yang ‘merana’ karena perputaran uang bukan dari murni penjualan produk.

    Dari segi syariah tentu hal ini tidak adil. Tapi bisakah dengan sistem MLM ini unsur syariah yang adil terpenuhi?

    Kalau menurut penulis sih InsyaAllah bisa ya..

    Caranya dengan sedikit ‘modifikasi’ pada detil sistemnya. Karena sebuah sistem menentukan perilaku semua yang terlibat di dalamnya.Kekurangan-kekurangannya bisa kita minimalkan dengan cara :

    Memilih Jenis Produk Yang Sangat Umum
    Dalam MLM pada umumnya, produk yang dijual selain harga yang mahal, biasanya hanya cocok untuk kalangan tertentu. Nah jika anggota yang sudah lah keanggotaannya dibatasi, kemudian dalam kurun waktu tertentu belum berhasil menjual produk ke orang lain , belum menemukan tipe konsumen berulang, trus dikejar aturan tutup point pula, anggota jaringan masih kurang, maka bisa dibayangkan betapa merananya. Apalagi jika dia sendiri tidak cocok dengan produk MLM yang dipasarkannya. Alhasil tidak terjadi penjualan. Semakin jauhlah dari bonus.

    Dengan memilih produk-produk baik berupa barang maupun jasa yang banyak digunakan dan dibutuhkan orang secara berkelanjutan maka para anggota pemasar tentu tidak akan kesulitan memasarkan produknya, menjaring anggota baru meskipun tanpa iming-iming bonus. Karena dia dan keluarganya memang membutuhkan produk tersebut. Bentuk kaki downline relatif lebih stabil.

    Keanggotaan Yang Seumur Hidup
    Menarik garis hubung dengan pemilihan jenis produk, maka jika tiba masa perpanjangan keanggotaan, tapi bonus kurang atau tidak dapat, maka semangat yang awalnya membara bisa padam. Jadi untuk mengimbangi eksklusivitas produk, maka sebaiknya keanggotaan berlaku seumur hidup.

    Ada beberapa MLM yang menyatakan bahwa pembatasan masa keanggotaan bertujuan agar para anggota fokus. Sebenarnya sih tidak salah juga kalau dipadukan dengan produk yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Tapi andaikatapun dilakukan pembatasan masa keanggotaan, jika produk memang hal umum dan berkelanjutan tentu tidak masalah. Apalagi kalau MLM itu menerapkan keduanya dalam bisnisnya, trus harga produk kompetitif, maka MLM dalam sistem pemasarannya akan memberikan rasa keadilan pada semua pihak. Otomatis bonus akan mengikuti.

    Sistem Keuntungan dan Bonus Yang Fleksibel.
    Dengan prinsip dasar skema berjenjang yang sebenarnya sangat mengapresiasi peran anggota ini, maka keuntungan dan bonus yang diperoleh bisa berasal dari yang sifatnya individual (transaksi riil) dan juga dari jaringan yang kita bentuk.

    Ada MLM yang menerapkan sistem pembagian bonus berdasarkan keseimbangan bentuk kaki. Akibatnya jika misalnya kaki kanan mengalami pertumbuhan downline (jalur ke bawah) lebih besar dibanding pertumbuhan jalur ke bawah kaki kiri maka upline (misalnya anda) tidak atau belum mendapatkan bonus. Apalagi jika anda belum memiliki downline, meskipun melakukan transaksi.

    Fakta lain, kecenderungan ada unsur money game pada MLM adalah anggota terbawah meskipun telah melakukan transaksi dan ‘kerja keras’ mencari downline tetap sulit untuk mendapatkan apresiasi dan keadilan ‘bonus’. Alhasil yang diuntungkan oleh sistem biasanya yang berada di jalur atas.

    Untuk mengakomodir ‘keadilan’ bagi anggota downline tanpa mengurangi apresiasi pada anggota upline yang telah merekrut, maka sistem yang selama ini sudah dijalankan dapat dimodifikasi.

    Modifikasi sistem untuk bonusnya bisa dilakukan dengan :
    1. Memberikan bonus bagi anggota/ anda yang melakukan transaksi produk riil sebelum atau tanpa harus ada downline. Apresiasi pada individunya. Bisa berdasarkan lama keanggotaan atau jika telah mencapai jumlah transaksi tertentu, dan kemudahan lainnya.

    2. Sistem pemberian bonusnya pertama kali adalah pada pertumbuhan pada jalur satu kaki ke bawah (kolom) yang selanjutnya baru diduplikasi ke jalur samping (baris). Jadi begitu telah merekrut satu orang, diberikan bonus tertentu. Mengapa dengan hanya satu orang sebaiknya mulai diberikan bonus? Berikut penjelasannya…

    Sebagai contoh :
    Kita buat analogi ‘perkembang-biakan’ manusia dari orang tua (baca:anda-upline) sampai ke anak pertama (baca: downline pertama)- cucu (baca: downline kedua)- cicit (baca: downline ketiga), dst.

    Di atas disebutkan bahwa cukup dengan merekrut satu orang, maka berlaku bonus. Kalau kita menghubungkan dengan analogi manusia dlm kehidupan nyata, bukankah betapa bahagianya jika kita memiliki anak bahkan meskipun itu hanya satu? Kira-kira begitu jugalah jika meskipun baru berhasil merekrut satu orang sudah diberikan bonus.

    Tapi bagaimana kalau baru satu orang karena sudah dapat bonus trus dia nya jadi ‘santai’? Tenang saja karena dia pasti akan berpikir bahwa ” hmmm keliatannya harus memperbanyak anak nih, bener ya ternyata banyak anak banyak rejeki”. Otomatis dia akan ‘mencari’ lagi dengan sendirinya tapi dia tetap harus mempertimbangkan kemampuan ‘mengurus anaknya’.Yang harus ditekankan dan diingatkan oleh perusahaan adalah kewajiban moral dalam membina jaringan). Jadi (otomatis juga) dia akan menentukan sendiri batasan jumlah ‘anak’.

    Maka jalur ‘anak pertama’ ini yang dibentuk untuk mendapatkan bonus apresiasi jaringan (analoginya bisa menduplikasi sistem waris, hibah, dan ‘birrul walidain’ dalam kehidupan). Bisa dibuat berdasarkan persentase kontribusi penjualan dari semua titik pada jalur (1 kolom) ini terhadap total omzet jalur/jaringan, tanpa perlu menunggu keseimbangan omzet bersama dengan jalur (kolom) yang lain (baca: ‘anak kedua , dst).

    Dan agar ‘cicit-cicit’ (baca: anggota-anggota terbawah) bisa merasakan manfaat( bonus) dari usaha jaringan ini dalam waktu relatif cepat maka pemberian bonus jaringan diberikan pada saat jalur ke bawah ini telah mencapai kedalaman maksimal lima atau empat line (baca: telah lahir sampai ke ‘anaknya cicit’).

    Mengapa harus dilakukan pembatasan kedalaman line (1 kolom x 5 baris) untuk perhitungannya? Dengan cara ini, semua titik/pihak dari ‘anaknya cicit sampai kepada ‘anda’ bisa mendapatkan bonus jaringan dengan relatif cepat, tanpa harus terpengaruh bagaimanapun bentuk kaki pada jalur ‘anak kedua’ anda (andaikan sudah ada tapi pertumbuhan ke bawah berbeda bentuk dengan jalur ‘anak pertama’). Jadi jaringan ‘anak pertama’ dan ‘anak kedua’, dst tidak saling mempengaruhi. Pengaruh langsungnya adalah kepada ‘anda’ sebagai ‘yang melahirkan’ ( baca: yang merekrut).

    Apakah kekompakan jaringan (baca: antar-anak) berkurang? Ga juga kayaknya ya….

    Di lain sisi, karena ‘anda’ dalam kehidupan nyata memiliki ‘hubungan darah’/kontribusi anda yang terhitung sudah berkurang dengan ‘cucunya cicit’ (baca:downline kelima) anda sampai ke bawah dan jika yang berkembang banyak adalah jaringan pada titik ini maka untuk ‘ birrul walidain’ (porsi bonus jaringan) untuk anda mulai dari titik ini berkurang atau dapat dialihkan menjadi bonus bagi jaringan ‘cucunya cicit’ anda tersebut di atas. Hitung-hitung buat ‘pemerataan’. Mereka dapat menikmati bonus yang lebih besar apalagi jika diiringi juga dengan transaksi riil yang besar.

    Sistem ini selanjutnya diberlakukan (duplikasi) pada jaringan ‘anak kedua’ , ketiga, dst. Ke bawah dulu (kolom) baru ke samping (baris). Mengapa harus ke bawah dulu baru ke samping? Dengan tetap meminjam analogi ‘perkembangbiakan’ manusia, maka misalnya ada keluarga memiliki ‘dua anak’. Kedua anak ini ternyata ada yang baik dan ada yang nakal. Maka apakah Allah SWT lalu menunda pemberian pahala kepada orang tua karena mengharuskan kedua anaknya baik dulu? Apakah Tuhan tidak menghargai orang tua meskipun hanya satu anak yang baik? Kira-kira seperti itu.

    Jadi skemanya :

  • bisa merekrut minimal satu orang
  • tidak harus bentuk kaki seimbang, biarkan saja alami sesuai ‘prinsip’ perkembangbiakan manusia
  • penerapan skema ini dilakukan ke jalur bawah baru kemudian ke samping.
  • untuk tujuan keadilan bagi downline terbaru maka dilakukan pembatasan ‘cuplikan jaringan’, dlm cth dibatasi sampai level 5, dan kemudian berulang ke jalur bawah berikutnya (perusahaan di sini harus memperhitungkan juga komposisi yang menjalankan fungsi penjualan ke konsumen dengan jumlah konsumen lepas. Harus ada (berani melakukan) pembatasan distributor. Karena bisnis yang sebenarnya akan berjalan jika jumlah konsumen kebih besar dari distributor.

    Penghitungan total bonus jaringan yang akan dibagi selalu mengacu pada total omzet penjualan pada 1 kolom x 5 baris ( berdasarkan persentase transaksi riil masing-masing). Diharapkan (diusahakan) hal ini dapat menghilangkan bentuk piramida, tapi tetap ‘berjejaring”

  • Kombinasi skema ini relatif bisa mengantisipasi jika ada titik jaringan yang ‘ambruk’ atau tidak aktif tanpa merugikan titik lain. Cocok dengan fluktuasi ( kayak harga saham ya hehehe) ‘bentuk kaki-kaki’ jaringan yang bisa mengalami perubahan bentuk kapan saja. Dalam MLM, yang penuh dengan ketidakpastian adalah ‘bentuk kaki’.

    Jika perusahaan MLM menerapkan sistem yang fleksibel, tidak mempersyaratkan ‘bentuk kaki’ tertentu, maka semua anggota yang terlibat di dalamnya bisa nyaman tanpa merasa ‘terjebak’ dalam ‘kerja paksa’ yang hanya menguntungkan perusahaan.

    Demikian tambahan (terbaru) skema ‘anti-mainstream untuk sistem bonus dari “pengamat MLM” mode on.

    Jadi apakah sistem MLM bisa adil bagi jaringan terbawah? Sebenarnya kembali pada racikan sistem perusahaan MLM bersangkutan.

    Hmm…MLM? siapa takuut…

    Kekurangan Smartphone NRB (Non-Removable Battery)

    Spesifikasi gadget terutama jenis smartphone yang satu ini sering tidak menjadi pertimbangan penting bagi kita dalam memilih gadget. Apakah itu? Ya betul sekali, batere, bagian yang merupakan ‘nyawa’ dari gadget.

    Biasanya yang jadi perhatian kita berkaitan dengan batere ini adalah kapasitasnya. Mengenai apakah dia dapat di’copot’ atau tidak sangat jarang jadi masalah. Apalagi kalau memang gadgetnya itu berupa tablet 🙂

    Produsen smartphone biasanya mengeluarkan produk dengan batere yang dapat dilepas dan yang tidak dapat dilepas atau NRB(Non Removable Battery). Tentu masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Berhubung yang sering mengkhawatirkan adalah ‘kekurangan’, maka kita bahas mengenai kekurangan dari jenis NRB ini saja ya..

    Rata-rata smartphone apalagi dengan aktifitas tinggi biasanya usia betere jadi lebih singkat, biasanya dua tahun. Pada masa-masa ini, mungkin kita belum harus mengganti batere karena masih bisa melakukan charging. Karena kan sudah punya power bank?! Bisa saja, tapi fungsi power bank itu sebenarnya untuk hal darurat. Akan buruk juga jika kamu dikondisikan ‘selalu dalam keadaan darurat’ khan?!

    Akhirnya tiba pada masa kritis, batere sudah tidak mampu lagi digunakan, sementara ada beberapa data kamu yang belum atau tidak bisa dipindahkan dan disimpan secara online, misalnya koleksi majalah elektronik atau file-file yang hanya bisa dibuka dari aplikasinya seperti halaman yang tersimpan pada browser. Hal ini akan membuat ‘repot’ dan butuh biaya lagi untuk download ulang di gadget baru.
    Tidak efektif dan efisien.

    Di lain sisi terkadang secara spesifikasi dan fitur, smartphone tersebut sebenarnya masih dapat memenuhi semua kebutuhan kita tanpa perlu mengganti smartphonenya. Tapi karena sudah tidak bisa menyala tanpa memakai batere baru maka otomatis harus beli smartphone baru. Padahal solusi termudah dan murah sebenarnya adalah cukup mengganti baterenya.

    Ada beberapa produsen yang menyediakan cara penggantian batere jenis NRB ini, tapi hanya bisa dilakukan orang tertentu. Sementara untuk batere yang removable, bisa dilakukan siapa saja.

    Jadi kesimpulannya batere NRB itu tidak efisien dan efektif. Dan satu lagi, saat benar-benar baterenya tidak dapat berfungsi lagi maka seketika itu tamatlah riwayatnya. Alias ‘rongsokan’. Tidak bisa lagi melegenda. Tapi pilihan memang selalu kembali pada kebutuhan masing-masing, tergantung prioritasnya.

    Kelebihan Investasi Reksadana

    Masih berkaitan dengan reksadana. Artikel kali ini tentang kelebihan salah satu produk investasi di pasar modal ini.

    Berhubung penulis bukan praktisi pasar modal, maka opini-opini dalam tulisan di blog ini murni dari pengamatan pada pengalaman orang lain. Tapi tetep ya ada yang juga dari pengalaman sendiri. Jadi tingkat keakuratan Insyaa Allah bisa “middle-high end” lah 😊. Yah penulis independen merangkap investor ☺.

    Kembali ke judul, mengapa reksadana itu bisa dikategorikan investasi yang memiliki kelebihan-kelebihan. Ini alasannya :

  • Dapat Menjadi “Stepping Stone” Menuju Saham
  • Karena berinvestasi pada saham secara langsung memerlukan ilmu dan modal yang tidak bisa dianggap kecil dengan risiko yang relatif besar maka dengan reksadana seorang investor pemula nun awam sekalipun bisa ‘menyalurkan’ hasrat berinvestasinya di pasar modal.

    Reksadana yang dikelola oleh profesional dalam hal ini Manajer Investasi dapat menjadi wadah bagi kita (terutama investor ritel) untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan investasi saham. Indikator dan strategi reksadana yang digunakan oleh Manajer Investasi bisa diterapkan pada saham spesifik yang akan dipilih pada investasi saham langsung di bursa kelak. Reksadana dapat menjadi sarana mengasah naluri dan intuisi sebelum masuk ke saham.

    Untuk yang memilih reksadana syariah sebagai wadah pembelajarannya menurut pendapat penulis lebih bagus lagi karena Indeks acuannya yaitu Jakarta Islamic Index secara berkala yaitu 6 bulan sekali melakukan evaluasi terhadap saham-saham yang ada di bursa.

  • Lebih “Lincah”
  • Karena meskipun acuannya adalah saham tapi dengan modal relatif kecil-menengah investor dapat menjajaki investasi pada berbagai jenis sektor yang bahkan jika investornya adalah institusi maka terbuka kemungkinan memiliki ‘suara’ dalam jangka panjang (dengan catatan regulasi pajak tidak ‘menggembosi’ imbal hasilnya hihihi).

  • Relatif Bisa Menambah Aset Dengan (Relatif) Cepat
  • Mengapa bisa dikatakan relatif cepat (bukannya mutlak cepat?). Ya karena acuannya saham dan dijual di pasar modal tapi kembali lagi ke strategi dari Manajer Investasinya. Kalau bisa menemukan MI bintang 5 atau kalau ada yang bintang 7, maka bisa lebih cepat lagi.

    Investasi berbasis saham sangat berkaitan dengan ‘timing’ meskipun prinsip ‘siapa cepat dia dapat cuan’ tidak sepenuhnya berlaku. Tetap ada ‘faktor keberuntungan’. Makanya dianjurkan untuk mencaritau cara menjadi ‘orang yang beruntung’☺. Bisa dengan pemilihan strategi.

    Dengan kombinasi basis investasinya dan strategi investasi berkala yang dimungkinkan pada reksadana, maka investor dapat menggunakan imbal hasilnya untuk berbagai kebutuhan dan keinginan.

    Karena biasanya faktor kelebihan pada sesuatu itu bisa menjadi kekurangannya, maka silakan pembaca boleh menyimpulkan dan membaginya dengan pembaca yang lainnya.

    Baca Juga :

    20121231-202102.jpg
  • Pentingnya Bank Kustodian
  • Memilih Reksadana Bagi Pemula
  • Strategi Jitu Minim Risiko Investasi Reksadana