Buyback Saham, Baik Ataukah Buruk?

Buyback Saham, Baik Ataukah Buruk?

Ini bukan tentang buyback ‘fisik’, meskipun ada persamaannya. Kalau ‘fisik’ repot kali yaa mengikuti cara kerja bursa. Kasian investor ‘fisik’nya he3.

Untuk menghadapi volatilitas pasar saham maka OJK membuat kebijakan buyback saham oleh emiten maksimal 20% saham yang beredar tanpa harus RUPS.

Atas aturan ini, ada emiten yang pro dan ada yang kontra, dgn pertimbangan masing-masing.

Karena semua di dunia ini memiliki kelebihan sekaligus kekurangan, sisi baik sekaligus sisi buruk, maka tentu demikian pula halnya buyback saham.

Berhubung penulis bukan di posisi emiten, maka tinjauan (pendapat pribadi) terhadap sisi baik dan buruknya didasarkan pada posisi investor (yg tradisional konservatif moderat huihuihui).

Sisi baik buyback saham :

1. Mengurangi kekhawatiran investor.
Hal yg paling mengkhawatirkan bagi investor (saat di posisi penjual) adalah jika ‘jualan’ tidak laku.

2. Dengan buyback, investor yakin kualitas emiten yang bersangkutan. Jika mereka (emiten tsb) berani buyback maka itu karena mereka ‘mengenal’ diri sendiri.

Ibaratnya karena kita percaya kualitas ‘jualan’ kita, maka no problemo jika dikembalikan lagi. Pasti laku kok dijual lagi, hanya masalah timing saja. Bahkan bisa kita promokan lagi dengan harga yang lebih baik karena kendali di tangan kita.

3. Dengan buyback secara tersirat memperlihatkan ‘kesolidan’ dan integritas emiten. Bukan hanya saat membutuhkan dana segar saja.

4. Dengan buyback, bagi investor andaikan pun mengalami capital loss secara immateril tetap merasa ini adalah virtual capital gain (istilah baru), karena secara jangka menengah panjang hal ini memperbaiki harga saham. Ibaratnya daripada jatuh ke mulut buaya mendingan ke mulut …. deh. Jadi lebih bisa ‘tumbuh bersama’ (mirip2 slogan ya). Hal ini berdampak jangka panjang bagi emiten.

5. Menggambarkan kekuatan kapitalisasi dan likuiditas emiten yang juga berkaitan dengan kualitas kinerjanya.

6. Lebih ‘jelas’ siapa-siapa saja ‘pemiliknya’. Ini sangat mempengaruhi karakter, kebijakan perusahaan, dll.

7. Kredibilitas emiten dalam hal ini lebih transparan bagi investor. Dalam redaksi ‘semi-halus’ nya : Praktek lebih mendekati teori, dalam waktu penilaian yang singkat.

Sisi negatif buyback saham:

1. Apa ya? Dana bisa dialihkan untuk produksi, ekspansi bisnis, dll. Tapi–kalau berdasarkan KBBV(icky) terbitan negara tetangga– outputnya biasanya terkudeta oleh misalnya ‘bonus’, peningkatan produksi seringkali hanya citraisasi oleh konspirasi kemakmuran ke dalam he3.

Berhubung skor 7:1, maka kesimpulannya.. ya begitu deh.

Catatan: Lebih mantep lagi kalau pemberitaan bahwa “emiten ini akan melakukan buyback ” berubah menjadi “emiten ini telah buyback”. Jadi dari ‘ teori ke praktek ‘.

@#
@#@#
@##@
@###

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: