(Emas-Part 2) Emas Tidak Cocok Buat Investasi (?)

Masih tentang emas. Melengkapi artikel Benarkah “emas itu zero inflasi”?, maka kali ini mengupas (nggak setajam silet ko’–krn blm bisa he3x) tentang tepatkah emas itu menjadi instrumen investasi atau jangan-jangan kita merasa melakukan investasi padahal yang terjadi hanyalah terdampar di zona ‘belanja’ emas seperti belanja atau membeli barang, yang jenisnya likuid saja? Semisal membeli mobil (non antik).

Seperti yang telah diketahui bahwa investasi dan bisnis itu harus ada ‘pasar’nya, dan jika ingin dikatakan ‘untung’, maka harga di pasar yang terbentuk itu merupakan hasil negoisasi.bukan ditentukan oleh satu pihak saja. Karena aturan, syarat dan ketentuan yang berlaku ada dalam kendali satu pihak, meskipun ‘fisiknya’ berada pada pihak yang lain. Hal ini bisa jadi membatasi keuntungan pihak pemegang fisik. Jika pasarnya memungkinkan kedua pihak memegang kendali untuk negosiasi harga, maka kedua belah pihak mendapatkan keuntungan. Sehingga kedua pihak ‘bolehlah’ merasa telah berinvestasi, bukan sekedar satu pihak hanya menolong pihak yang lain di saat kepepet.

Nah kembali pada judul di atas, emas yang beredar baik yang diperuntukkan untuk bisnis maupun investasi bisa ditemukan dalam bentuk ‘fisik’ maupun ‘virtual’. Tapi yang akan dibahas artikel ini adalah dalam bentuk fisik, karena ini yang banyak digeluti masyarakat, baik perorangan maupun perusahaan.

Karena kita di Indonesia, maka pembahasannya juga ‘Indonesia’. Emas yang diperjualbelikan kita kenal ada yang berbentuk emas batangan, koin dinar, perhiasan, maupun emas yg akan dilebur lagi yang biasanya dibeli /pasarnya adlh
oleh ‘pebisnis merangkap investor. Berikut perbandingan emas-emas fisik tsb:

Emas Koin Dinar
Bagi yang memilih bentuk emas ini, maka efektif menjadi instrumen investasi maupun bisnis jika sering bepergian atau bertransaksi dengan negara atau pihak yang memberlakukan dinar sebagai alat tukar atau mata uangnya. Kalau tujuannya menunggu atau mengharapkan selisih jual beli mungkin terlalu berspekulasi. Menguntungkan satu pihak saja.

Emas batangan
Emas ini hasil produksi juga (baik yang ‘fresh from the oven’ maupun hasil lebur) tapi bentuknya tidak memungkinkan untuk dipakai sebagai perhiasan, padahal sebenarnya tetap ada biaya cetaknya (ada perubahan bentuk khan dari yang sebelumnya butiran). Untuk yang batangan ini pemiliknya bisa mendapatkan dana tunai (ujung-ujung investasi biasanya hasil tunainya,bukan hanya di atas kertas), bisa dari selisih jual beli atau digadaikan. Dari kedua ‘pasarnya’ ini harga ditentukan oleh pihak yang buy back (baik produsen lgsg maupun toko emas) maupun gadainya. Jadi unsur spekulasi dan risk nya lebih besar lagi (menurut penulis ya). Oh ya di antara pembaca mungkin ada yang pernah menggunakan emas batangan ini sbg alat tukar langsung tanpa konversi apakah di negara mata uang dinar atau bukan, boleh berbagi pengalamannya.

Emas butiran
Emas ini bisa diperoleh dari penambangan langsung maupun emas2 yang akan di’daur’ kembali. Cocok bagi yang ‘ahli emas, yang ‘ahli mencari ahli’, dan ‘perantara’. Perputarannya lancar (tau jaringan dan pasar)

Emas perhiasan
Jenis emas inilah yang menjadi ‘muara’ jenis jenis emas lainnya. Bagi yang ingin mendapatkan keuntungan yang lumayan pasti, maka cocok memilih bentuk ini dengan catatan tau bagaimana mendapatkan bahan bakunya, tau pengrajinx- tau pasar gemuknya, maka selamat deh jadi pebisnis yang kinclong.

Sudah tersirat kira-kira koleksi emas fisik kita membuat kita dapat disebut investor, pebisnis, atau malah hanya pembeli emas saja, bukan?

Eh jadi sebenarnya emas itu tepatkah buat investasi? Jika investor menginginkan keuntungan yang besar,maka  pilihlah instrumen yang sifatnya tidak likuid. Sebaliknya jika likuid, maka instrumen itu bersifat cadangan. Jadi harus ‘bermitra’ dengan instrumen lain (menghibur bagi yang terlanjur🙂 ). Akan halnya emas, jika berbicara likuiditas tentu memenuhi,krn itu perolehan setelah konversi bukan membuat kaya, tapi tepatnya selalu ada uang tunai, yang bisa banyak bisa pas bahkan kurang he3x. Sebenarnya lebih cocok berbisnis emas, dibanding investasi (?)

Catatan: kata ‘investor’ dalam artikel ini merujuk pada masyarakat atau pemula

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: