(Emas- part 1) Benarkah “emas itu zero inflasi”?

Benarkah kutipan judul di atas? Apakah emas masih bisa melindungi nilai ? Siapakah sebenarnya yang menjadi penentu harga emas? Kapan emas dapat dikatakan zero inflasi? Jenis emas yang manakah yang tepat untuk investasi?

Sederet pertanyaan tsb di atas mungkin ‘dipertanyakan’ jg oleh pembaca krn menghadapi kenyataan saat ini harga emas jatuh lumayan dalam, pd waktu yg sgt singkat. Sepertinya ada ‘bubble2’nya juga ya. Berarti emas bisa kalah oleh inflasi? Kenyataannya skrg seperti itu. Mengapa demikian?

Mari kita mencoba melihat terlebih dahulu emas sebagai logam mulia. Mengapa disebut logam mulia? Salah satunya karena tidak mudah ‘berubah’ meskipun telah dilebur dan di olah kembali. Maka emas ini dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa khawatir standar nilainya berubah karena misalnya rusak, basi (beda dengan sembako), dll. Sifat ini bisa dikatakan relatif mengungguli barang komoditas lain. Karena itu dapat dijadikan fisik mata uang dan juga sebagai salah satu pilihan barang untuk investasi. Sekarang kita sederhanakan apa itu investasi sendiri. Secara umum —dan langsung ke poinnya —merupakan langkah antisipasi untuk meningkatkan jumlah kekayaan sehingga berdaya ‘tukar’.
Dengan sifatnya yang unik dan mulia ini, apakah investasi dalam bentuk emas dengan sendirinya bisa disimpulkan zero inflasi dan ‘hedging’ –sehingga tetap memberdayakan pemiliknya?

Lindung nilai atau unggul daya beli —yg pada akhirnya disimpulkan zero inflasi—itu hanya bisa diperoleh jika ada suatu ‘keharusan’ dalam bentuk aturan yang berlaku di sebuah negara. Emas dalam hal ini di negara kita belum menjadi alat tukar resmi sehingga tidak ada keharusan
memperlakukannya sebagai alat transaksi yang setara. Memang emas itu likuid, tapi karena masih berupa komoditas biasa, maka likuiditas yang dihasilkannya bisa naik atau turun dan bahkan tentu saja lebih banyak turunnya. Contoh jika pemilik emas menggadaikan emasnya, kesetaraan ‘harga’ tukarnya ditentukan oleh satu pihak saja. Demikian pula jika dijual kembali, tergantung pembelinya. Yang bisa melindungi nilai itu biasanya yang bersifat mutlak (misalnya kebijakan2), yang memegang kendali.

Di jaman Nabi SAW, pemerintahannya memang menjadikan emas sebagai alat tukar, jadi jika mau membeli kambing misalnya, yah penjual kambingnya mau barter, karena emasnya nanti bisa juga dibarter kebutuhan lainnya. Jadi peran ulil amri di sebuah negara menentukan.

Kembali ke emas sebagai komoditas yang bukan alat tukar resmi maka emas tentu akan mengikuti (sebagian besar) hukum perdagangan biasa. Maka jika dikatakan bahwa emas membuat tetap kaya, kelihatannya berlaku untuk pedagang emas, produsen emas dan pebisnis emas sj. Sementara investor, pembeli, apalagi penimbun yah ‘untung2an hehehe.

Apakah ini berarti emas tidak cocok sbg alat investasi (terutama bg kita yg awam) dan tidak mulia lagi serta memuliakan pemiliknya?
Pada hakikatnya masih, emas itu sangat berkilau dan indah, cuma mungkin ada orang yg mengalami sedikit penundaan atau perlambatan menuju mulia he3. Ada faktor keberuntungan juga di dalamx bukan sekedar ilmu pengetahuan dan modal uang.
Ya karena untuk menentukan kapan harus masuk dan keluar dari permainan emas ini betul2 butuh intuisi dan doa harus kenceng kayaknya ya, agar dalam meramu portofolio emas ini komposisinya sesuai dgn profil masing2 shg tetap bisa melindungi nilai atau daya beli pemiliknya. Berapa jumlah yang tepat dalam persentase , berapa lama waktu simpan yang tepat,dll.

Jadi apakah emas itu zero inflasi ? Jawabanx, kelihatanx tergantung ‘nasib’ individunya. Bisa jadi saat ini A membutuhkan sesuatu yg tdk dpt ditunda shg terpaksa membelix tentu kena dampak inflasi tetapi B justru tdk tahu atau tdk peduli pergerakan harga emas saat ini. Mungkin intinya jika hanya berupa barang yg diperdagangkan, selalu ada gambling di dalamnya.

Lalu siapakah yg mempengaruhi harga emas? Jawabanx, salah satunya adalah wanita. Apa hubungan keduax? Sepanjang wanita masih menyukai perhiasan emas, maka akan selalu ada permintaan yg bs menaikkan harga emas, apalagi yang telah mendapatkan sentuhan kreativitas, misalnya perhiasan, emas yang digunakan sebagai bahan perabot,pada bangunan2 mesjid, dll yang bernilai seni) . Jd, berterimakasihlah pd wanita yg ‘merengek’ krn ini dpt mengerek harga. Untungnya jmlh wanita lebih bnyk ya di dunia ini,krn pria tdk boleh memakai emas. Analoginya seperti properti itu, ada yang membeli sebagai investor (biasanya ‘menghargai’ relatif murah) dan ada yang membeli sebagai end-user (memberikan keuntungan lebih besar).

Terus bentuk emas apa yg cocok sbg investasi?Nah ini juga tergantung bnyk hal. Sangat personal sifatnya. Terutama di negara mana individu bermukim. Mgkn krn emas bukan alat tukar resmi jd masih merupakan komoditas sj seperti yg lainnya. Keliatannya lebih cocok disebut bisnis emas, jadi lebih dinamis.

Jadi kesimpulannya dalam kaitan emas sebagai anti inflasi atau lindung nilai /mata uang itu sangat bergantung pada beberapa hal, antara lain :

  • Faktor keberuntungan
  • Faktor ini mengalahkan apapun keputusan dan aturan yang berlaku. Dan berkaitan erat dengan timing.

  • Pemerintah negara tersebut
  • Menjadikan emas sebagai ‘apa’

  • Jumlah penduduk, terutama wanitanya dan juga ‘ahli emas’ dan ‘ahli mencari ahli emas’
  • Tingkat kemakmuran suatu negara
  • Karena emas ini kan bukan barang konsumsi seperti halnya pangan dan papan

    Kesimpulan tsb di atas menurut penulis loh ya..

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: