Kiat Sederhana Merebut Hati Pelanggan

Sering demi untuk kesan pertama (kulit), dalam merebut hati atau perhatian orang lain, kualitas kesan akhir (isi) dikorbankan, karena toh belum “ketauan”. Jadi apa salahnya dicoba saja dulu. Kulit lebih penting daripada isinya. Prinsip ini kadang terjadi pada hampir semua kejadian kehidupan. Termasuk dalam bisnis.

Kesan pertama dalam hal bisnis memang penting. Tapi untuk mendapatkan hasil yang terbaik, yang sempurna, tentu harus melalui proses. Maka agar tetap bisa memperoleh kesan pertama yang baik berkelanjutan– yang diharapkan tetap tertanam di hati pelanggan, tanpa harus mengabaikan proses menuju kesempurnaan isi dan inti bisnisnya (sempurnakan sambil jalan 😋kata para praktisi bisnis yang tidak bosan mengingatkan)– kiatnya ada pada kreatifitas kita dalam memadukan dua hal yaitu kualitas produk dan kualitas purna jualnya secara “tepat” . Yang harus selalu dalam ingatan, jangan kreatifitas yang “akal-akalan” (baik saat promo maupun pada produk itu sendiri).

  • Kualitas Produk
  • Tawarkan produk yang berkualitas yang sesuai dengan kemampuan produksi saat itu dengan promo yang menarik tapi tidak “melampaui batas” , tidak harus yang paling sempurna, tapi minimal sedikit di atas skala standar yang secara umum bisa memenuhi kebutuhan pelanggan.

    Contoh bisnis operator telekomunikasi, dengan tiga produk utama yaitu paket suara, pesan, dan paket data. Dari ketiga produk ini, yang paling berkembang teknologinya adalah data karena sekarang ini bisa mengakomodir kebutuhan komunikasi data, pesan teks, maupun suara. Maka paket data ini harus menjadi prioritas utama dalam membuat parameter kualitas produk dan layanan purna jualnya.

    Untuk mencapai atau melampaui skala standar, maka parameter yang diperoleh dari produk prioritas utama itu diberi “nilai lebih” dengan meningkatkan kualitas dari produk prioritas sekunder yaitu paket suara dan paket pesan teks. Karena bukan sesuatu yang mudah untuk meraih kualitas sempurna dari ketiga produk maka ,misalnya dengan menggunakan parameter demografis,
    bisa dipilih salah satu dari kedua prioritas sekunder itu. Tergantung segmen yang disasar. Jangan memberi janji sanggup sempurna dalam semuanya, karena akan menjadi tidak fokus.

  • Kualitas Purna Jual
  • Percaya diri bagus, tapi tetap realistis itu harus. Karena akan berdampak pada produk dan pemberian layanan purnajualnya. Menawarkan suatu produk yang terkesan sempurna/bombastis dengan iming-iming keuntungan yang besar dan banyak untuk menarik hati pelanggan sering (kebanyakan) berakhir mengecewakan pelanggan karena secara realistis belum sesuai kemampuan. Maka saat menangani keluhan dari pelanggan menjadi kewalahan yang biasanya ditutupi dengan berbagai alasan “cerdas”, seolah-olah pelanggan yang “tidak beruntung”.
    Bagi pelanggan selain tidak menyelesaikan masalah juga membuang-buang waktu dan uang. Terkadang untuk batas toleransi tertentu, pelanggan bisa menerima kekurangan produk yang diimbangi dengan purna jual yang benar benar mencoba dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik
    Hasil akhir dapat ditebak. Pelanggan pindah ke lain hati, dengan meminta hatinya kembali alias tidak pernah ingin “menengok” lagi hehehe.

    Jadi intinya pada, bagaimana membuat kombinasi atau perpaduan produk bernilai tinggi baik dari kulit maupun isinya, kualitas produk (kesesuaian promo dan realita produk) maupun kualitas purna jualnya, dengan “tepat” tanpa melupakan kemampuan perusahaan saat itu.

    Tagged: , , ,

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: