Uji Cermin Dalam Proposal Bisnis

Dalam kehidupan sehari-hari benda yang bernama cermin hampir selalu kita “sapa”, entah dalam bentuk cermin yang sebenarnya, kaca mobil, kaca jendela rumah, dan bahkan sesama manusia pun sering menjadi “cermin”. Baik untuk melihat kondisi terkini, ataupun sekedar hoby saja matut-matut di depan cermin.

Begitu penting fungsi “cermin” sehingga ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa seseorang adalah cerminan temannya. Artinya cukup dengan melihat satu orang saja, maka bisa mengetahui dua atau lebih orang yang berbeda. Arti lain bahwa dengan jarak yang cukup dekat, kita dapat melihat hal yang jauh bahkan yang ada di belakang kita tanpa perlu menoleh, melihat diri kita dan di luar diri.

Dari penelitian, ditemukan “cermin” dalam otak yang berfungsi untuk mengenali dan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dalam hubungannya dengan bisnis jangka panjang, “cermin” ini sangat memegang peranan, akan coba dibahas berikut.

Dalam bisnis atau hubungan kerja sama dengan orang lain yang diharapkan berlangsung jangka panjang, ada beberapa hal atau karakter yang harus kita miliki. Yang akan dikupas sedikit di sini adalah hal membangun kepercayaan.

Kita ambil contoh hubungan investor, dan “bukan investor” yang misalnya seorang konseptor dan konektor murni. Sering kita dapati seorang investor kurang menaruh kepercayaan pada “bukan investor” tersebut di atas, padahal dari sudut pandang “bukan investor” ini, proposal sudah memenuhi syarat atau layak percaya.

Jika demikian halnya yang terjadi kita bisa introspeksi dengan “meminjam” cermin investor atau mengaktifkan cermin kita dengan mencoba memposisikan diri sebagai investor tersebut.
Nah coba rasakan sebagai investor hal-hal apa saja yang bisa membuat kita mempercayai proposal seorang konseptor dan atau konektor?

Hal yang perlu diingat adalah bahwa proposal itu adalah kondisi ideal, di atas kertas, yang masih bersifat harapan yang memerlukan waktu dan tanggung jawab untuk membuktikannya.

Umumnya, orang akan sangat kreatif dan “pintar” jika hal itu menyangkut keamanan dan kenyamanan dirinya. Begitu cepatnya menemukan apa yang harus dilakukan. Seperti seorang ibu, meskipun yang mengalami permasalahan adalah orang lain yang dalam hal ini anaknya, maka sang ibu sangat cepat tahu apa yang mesti dilakukan, kadang tanpa harus belajar formal. Ini karena adanya syaraf “cermin” di otak. Mengibaratkan dirinyalah yang mengalami hal yang sama.

Hal yang lumrah orang membuat isi proposal yang menunjukkan optimisme dan kualitas yang unggul. Karena kalau yang ditonjolkan kekurangan hampir dipastikan tidak ada yang percaya lagi pada “pandangan pertama”. Tapi sebenarnya kualitas yang unggul dan rasa optimis dari konseptor dan atau konektor akan terbaca oleh investor sebagai sebuah tekad kuat bukan janji surga semata, jika yang membuatnya memiliki hal berikut : ( sebagian kecil dari banyaknya kemungkinan)

  • kejujuran

Ini sebenarnya tidak perlu penjelasan lagi karena fitrah manusia yang menyukai kejujuran

  • kehandalan

Untuk jujur mengatakan bahwa kita handal biasanya telah mengalami atau melakukannya,
tapi jika masih pemula, minimal kita tahu gambaran besar dari apa yang kita proposalkan
tersebut. Misalnya seorang konektor , harus tau siapa-siapa saja yang akan terlibat dalam
bisnis dan peranannya karena dialah yang menjadi penghubung antara pelaksana dan
investor. Tidak perlu detail penjelasannya, cukup orang-orang dengan tanggung jawab
inti. Jadi investor biasanya tidak semata-mata “menilai” konektor dan konseptornya
saja, tapi ke operator di lapangan. Konektor pun harus melihat langsung kondisi yang akan
jadi bisnis bersama tersebut. Jadi tidak hanya menyampaikan apa yang juga hanya
oleh konseptor atau kontraktor atau mungkin gabungan ketiganya. Konektor dan atau
konseptor biasanya jadi ujung tombak “bertemu” investor.

Konektor ini harus menggunakan cermin investor. Membangun komunikasi emosional
terlebih dahulu.

  • Ajak satu orang terdekat yang jujur dan handal

Orang cenderung optimis menawarkan bisnis yang dianggap dan diyakini menguntungkan
kepada keluarga inti atau keluarga dekatnya terlebih dahulu dibanding kepada orang lain.
Investor yang berpengalaman biasanya melihat hal ini, kecuali kalau investornya intuisinya
setajam silet, maka tidak perlu proposalšŸ™‚. Untuk sekedar uji “cermin”, coba proposalnya
baca dan tawarkan pada diri sendiri atau keluarga yang mengenal kita secara emosional.
Biasanya kalau di dalam proposal itu sudah “otentik”, kita atau keluarga kita akan bisa
merasakannya. Jadi usahakan tidak hanya satu investor.

  • Keyakinan yang memancar

Sebagai seorang konektor, dia harus yakin bahwa hal itu prospektif terlebih dahulu sebelum meyakinkan investornya.
Caranya? Biasanya orang melibatkan diri karena yakin “istimewa”. Untuk saat-saat awal mau tidak mau harus terlibat langsung juga, karena sbg
penghubung, dia yang paling mengenal kedua belah pihak yang dihubungkannnya
kalau dia “hilang” , maka jadilah missing link heheh. Jadi tidak sekedar setelah dapat
investornya, maka urusan selesai.

Tentu masih banyak hal lain yang bisa dikupas karena keinginan/tipe dan tujuan investor berbeda-beda. Silakan dikembangkan. Eh dibaca dulu kali ya…artikelnya:-).

Posted via DraftCraft app

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: